Kamis, 10 April 2014

Latuhalat, Persinggahan di Luar Rencana



Sejak lama saya mendamba untuk menginjakkan kaki di Banda Neira. Citra satelit hasil pencarian di Google Maps atas Banda Neira langsung membuat saya jatuh hati. Apalagi setelah saya zoom-out, dan mengetahui keberadaannya  di antara pulau-pulau lain di Maluku atau Nusantara, seketika saya penasaran dibuatnya. Tapi sepertinya saya tidak perlu berpanjang lebar menjelaskan betapa memikatnya gunung vulkanik yang menjulang di Pulau Naira atau menariknya sejarah kedatangan Bangsa Portugis di sini. 

Saya tidak jadi ke Banda Neira. 

Lihat Banda Neira di Google Maps.
Tiket pulang pergi Ambon-Jakarta untuk Desember sudah saya pesan sejak Februari. Namun keterbatasan jadwal penerbangan maupun pelayaran dari dan ke Banda memaksa saya dan teman-teman saya mengurungkan niat mampir di Banda pada penjelajahan tanah Maluku kami. Kami putar haluan, kami mengganti tujuan kami dengan Sawai dan Pulau Tual di Maluku.


Itu baru satu rencana yang luput. Ada sebuah rencana lagi yang agak lalai, dan yang satu ini terjadi tepat saat kami baru saja menginjakkan kaki di tanah Maluku.

Sebelum jam makan siang, pesawat  kami sudah mendarat di Bandar Udara Pattimura di Ambon. Ada dua transportasi yang bisa digunakan dari bandara menuju ke pusat kota Ambon. Yang disebut pusat kota Ambon biasanya adalah Tugu Trikora dekat Masjid Al-Fatah, atau bisa juga Gong Perdamaian Dunia di seberang Lapangan Merdeka, kedua landmark ini letaknya hanya berjarak kira-kira satu kilometer satu sama lain. Bus Patas AC bertarif Rp. 30.000,-/orang dan bemo Rp. 5.000,-/orang, tapi dengan bemo harus berjalan kaki atau berganti bemo untuk menuju pusat kota.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan, salah satu teman sudah memesan penginapan dengan bantuan sebuah agen perjalanan online yang khusus membantu pencarian hotel terutama di Asia. Singkat cerita, Si Teman langsung memesan sekaligus membayar lunas akomodasi kami untuk satu malam pertama di Ambon. Di web agen perjalanan tersebut kami tertarik dengan sebuah hotel, yaitu Collin Beach Hotel. Tanpa pengetahuan mengenai seluk-beluk kota Ambon, siapa yang tidak tertarik kalau ada beach hotel (yang berarti hotel di tepi pantai) namun dengan keterangan lokasi Ambon City Center. Best deal, kami bisa bersantai dengan suasana tepi pantai, sekaligus tidak akan kesulitan untuk membeli beberapa keperluan di pusat kota.



Tapi ada sedikit kekeliruan.

Setelah beristirahat sambil mencicipi Pala Wine dan Pulut Siram khas ambon di Sibu-Sibu Cafe, lalu makan siang di Beta Ruma (tepat di sebelah Sibu-Sibu Café; Jl. Said Perintah), kami memutuskan untuk menuju penginapan kami, Collin Beach Hotel. Kami tidak berbekal peta lokasi hotel ini, jadi cara termudah tentunya bertanya pada pemilik rumah makan.

Kekhawatiran pun mulai muncul saat tidak seorang lokal pun di rumah makan itu tahu nama hotel maupun nama jalan tempat hotel kami berada. Bahkan tukang ojek, hingga supir bemo pun kami buat bingung dengan nama Collin Beach atau Jalan Alamanite padahal jelas-jelas nama-nama itu tertera di web agen perjalanan terpercaya. Tapi jika penguasa jalanan lokal tidak tahu, pasti ada yang salah. Maka segera teman saya menghubungi hotel untuk memperoleh informasi lebih detil.

Dan ternyata penginapan kami terletak di Latuhalat.

Peta Pulau Ambon, dan betapa jauhnya pusat kota dan Latuhalat.

Melihat letak Latuhalat di catatan Lonely Planet yang saya simpan di Ipod bikin saya sedikit gelisah. Letaknya ada di ujung Barat Daya kota Ambon. Tidak heran kalau dia beach hotel. Dan butuh naik bemo selama 20-30 menit untuk mencapai Latuhalat dari Pusat Kota Ambon. Tidak mungkin berganti hotel karena pembayarannya sudah kami lunasi dan uang kami pas-pasan. Singkat cerita, kami mencari bemo dan meneruskan perjalanan ke tepian Pulau Ambon ini.

Tapi ternyata ini jadi bagian perjalanan terbaik! Menginaplah di Latuhalat kalau singgah di Ambon. Ini seperti menambah nilai jalan-jalan di Ambon Anda.

Penginapan kami terletak di desa yang mungkin paling tenang di Ambon. Hanya dibelah oleh jalan aspal yang tidak terlalu lebar dan hanya sesekali dilalui kendaraan bermotor. Pohon-pohon kelapa yang tidak terhitung jumlahnya tersebar di sini, termasuk di komplek hotel, meneduhkan jalan dan tempat-tempat bersantai. Pantainya mungkin tidak terlalu menawan, tapi menikmati matahari yang terbit dan tenggelam di sini lebih menenangkan daripada berada di tengah Kota Ambon yang sibuk. Segelas bir dingin jadi teman ngobrol ngalor ngidul tengah malam, kami bertiga juga bersyukur perjalanan kami ditujukan ke sini.



Tempat favorit saya di Latuhalat adalah Pantai Santai. Di sini berdiri kantor operator untuk diving di perairan sekitar, Blue Rose Diving. Selain kantor, ada pula beberapa bangunan berdinding papan kayu dan ber-AC yang disewakan untuk bermalam. Setelah bersyukur bisa menginap di Collin Beach Hotel walaupun di luar rencana, saya kembali menyesal karena tidak menginap di sini. Bangunan-bangunan Blue Rose berjajar menghadap pantai berpasir putih dan Laut Banda, saya jamin membuang waktu seharian di sini pun akan menyenangkan. Saat singgah di siang hari yang terik, beberapa anak lokal berenang, bermain sambil sesekali minta difoto.

Saya tidak diving hanya snorkeling, tapi teman saya yang diver melakukan ritualnya menyelami perairan Banda di beberapa diving spot termasyur di sini. Pernah dengar ada yang bilang belum ke Ambon kalau belum diving di Pintu Kota? Nah, di sinilah tempatnya. Ada beberapa diving spot lain yang dijelajahi waktu itu, yaitu Tanjung Mahia dan Namalatu. Di sini, katanya bisa dilihat bumphead parrotfish, kerapu, angelfish, clownfish dan anemonnya, dan sea fan berukuran besar-besar.

Rekomendasi ini mungkin sedikit tidak lazim, tapi ada warung makan yang menyediakan bakso dan ayam goreng pecel tepat di depan Collin Beach Hotel. Di hari terakhir saat kami kembali ke Ambon sebagai kota transit setelah berkeliling Maluku, kami kangen bakso dan ayam goreng pecel! Mungkin karena berhari-hari kami menikmati makanan laut dimanapun kami singgah di Maluku. Jadi ini semacam safe zone buat yang kangen makanan sehari-hari. Tapi ya, kami kembali lagi ke Latuhalat, destinasi yang awalnya kami hadapi dengan gelisah karena ada di luar rencana perjalanan.



Cerita persinggahan tak terencana di Latuhalat jadi awal perjalanan saya dan dua teman saya berkeliling Maluku. Selanjutnya, cerita-cerita menarik lain mengikuti. 

Entah apa yang bisa didapat dari cerita ini. Pelajaran bahwa kali lain merencanakan perjalanan segala sesuatunya harus dipersiapkan lebih detil? Tidak juga. Kalau dari awal kami tahu Latuhalat 30 menit jauhnya dari pusat kota Ambon, mungkin kami tidak akan sepakat untuk bermalam di sana. Tulisan ini pun tidak akan pernah ada.

Seorang pejalan pernah berpesan untuk tidak takut tersesat. Karena tersesat akan membawa kita pada pemahaman akan arti perjalanan yang sesungguhnya.

Jadi ingat iklan National Geographic Adventure channel ada tagline dalam bahasa Portugis : deixemo-nos perder?


2 komentar:

  1. Kalo gak nyasar ke latuhalat, gw gak yakin hari itu gw akan diving!

    BalasHapus
  2. Halo, boleh tau berapa biaya naik bemo dari pusat kota ke latuhalat? Kalau bisa minta kontak anda lebih baik lagi :)

    BalasHapus