Kamis, 10 April 2014

Latuhalat, Persinggahan di Luar Rencana



Sejak lama saya mendamba untuk menginjakkan kaki di Banda Neira. Citra satelit hasil pencarian di Google Maps atas Banda Neira langsung membuat saya jatuh hati. Apalagi setelah saya zoom-out, dan mengetahui keberadaannya  di antara pulau-pulau lain di Maluku atau Nusantara, seketika saya penasaran dibuatnya. Tapi sepertinya saya tidak perlu berpanjang lebar menjelaskan betapa memikatnya gunung vulkanik yang menjulang di Pulau Naira atau menariknya sejarah kedatangan Bangsa Portugis di sini. 

Saya tidak jadi ke Banda Neira. 

Lihat Banda Neira di Google Maps.
Tiket pulang pergi Ambon-Jakarta untuk Desember sudah saya pesan sejak Februari. Namun keterbatasan jadwal penerbangan maupun pelayaran dari dan ke Banda memaksa saya dan teman-teman saya mengurungkan niat mampir di Banda pada penjelajahan tanah Maluku kami. Kami putar haluan, kami mengganti tujuan kami dengan Sawai dan Pulau Tual di Maluku.


Itu baru satu rencana yang luput. Ada sebuah rencana lagi yang agak lalai, dan yang satu ini terjadi tepat saat kami baru saja menginjakkan kaki di tanah Maluku.

Sebelum jam makan siang, pesawat  kami sudah mendarat di Bandar Udara Pattimura di Ambon. Ada dua transportasi yang bisa digunakan dari bandara menuju ke pusat kota Ambon. Yang disebut pusat kota Ambon biasanya adalah Tugu Trikora dekat Masjid Al-Fatah, atau bisa juga Gong Perdamaian Dunia di seberang Lapangan Merdeka, kedua landmark ini letaknya hanya berjarak kira-kira satu kilometer satu sama lain. Bus Patas AC bertarif Rp. 30.000,-/orang dan bemo Rp. 5.000,-/orang, tapi dengan bemo harus berjalan kaki atau berganti bemo untuk menuju pusat kota.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan, salah satu teman sudah memesan penginapan dengan bantuan sebuah agen perjalanan online yang khusus membantu pencarian hotel terutama di Asia. Singkat cerita, Si Teman langsung memesan sekaligus membayar lunas akomodasi kami untuk satu malam pertama di Ambon. Di web agen perjalanan tersebut kami tertarik dengan sebuah hotel, yaitu Collin Beach Hotel. Tanpa pengetahuan mengenai seluk-beluk kota Ambon, siapa yang tidak tertarik kalau ada beach hotel (yang berarti hotel di tepi pantai) namun dengan keterangan lokasi Ambon City Center. Best deal, kami bisa bersantai dengan suasana tepi pantai, sekaligus tidak akan kesulitan untuk membeli beberapa keperluan di pusat kota.



Tapi ada sedikit kekeliruan.

Setelah beristirahat sambil mencicipi Pala Wine dan Pulut Siram khas ambon di Sibu-Sibu Cafe, lalu makan siang di Beta Ruma (tepat di sebelah Sibu-Sibu Café; Jl. Said Perintah), kami memutuskan untuk menuju penginapan kami, Collin Beach Hotel. Kami tidak berbekal peta lokasi hotel ini, jadi cara termudah tentunya bertanya pada pemilik rumah makan.

Kekhawatiran pun mulai muncul saat tidak seorang lokal pun di rumah makan itu tahu nama hotel maupun nama jalan tempat hotel kami berada. Bahkan tukang ojek, hingga supir bemo pun kami buat bingung dengan nama Collin Beach atau Jalan Alamanite padahal jelas-jelas nama-nama itu tertera di web agen perjalanan terpercaya. Tapi jika penguasa jalanan lokal tidak tahu, pasti ada yang salah. Maka segera teman saya menghubungi hotel untuk memperoleh informasi lebih detil.

Dan ternyata penginapan kami terletak di Latuhalat.

Peta Pulau Ambon, dan betapa jauhnya pusat kota dan Latuhalat.

Melihat letak Latuhalat di catatan Lonely Planet yang saya simpan di Ipod bikin saya sedikit gelisah. Letaknya ada di ujung Barat Daya kota Ambon. Tidak heran kalau dia beach hotel. Dan butuh naik bemo selama 20-30 menit untuk mencapai Latuhalat dari Pusat Kota Ambon. Tidak mungkin berganti hotel karena pembayarannya sudah kami lunasi dan uang kami pas-pasan. Singkat cerita, kami mencari bemo dan meneruskan perjalanan ke tepian Pulau Ambon ini.

Tapi ternyata ini jadi bagian perjalanan terbaik! Menginaplah di Latuhalat kalau singgah di Ambon. Ini seperti menambah nilai jalan-jalan di Ambon Anda.

Penginapan kami terletak di desa yang mungkin paling tenang di Ambon. Hanya dibelah oleh jalan aspal yang tidak terlalu lebar dan hanya sesekali dilalui kendaraan bermotor. Pohon-pohon kelapa yang tidak terhitung jumlahnya tersebar di sini, termasuk di komplek hotel, meneduhkan jalan dan tempat-tempat bersantai. Pantainya mungkin tidak terlalu menawan, tapi menikmati matahari yang terbit dan tenggelam di sini lebih menenangkan daripada berada di tengah Kota Ambon yang sibuk. Segelas bir dingin jadi teman ngobrol ngalor ngidul tengah malam, kami bertiga juga bersyukur perjalanan kami ditujukan ke sini.



Tempat favorit saya di Latuhalat adalah Pantai Santai. Di sini berdiri kantor operator untuk diving di perairan sekitar, Blue Rose Diving. Selain kantor, ada pula beberapa bangunan berdinding papan kayu dan ber-AC yang disewakan untuk bermalam. Setelah bersyukur bisa menginap di Collin Beach Hotel walaupun di luar rencana, saya kembali menyesal karena tidak menginap di sini. Bangunan-bangunan Blue Rose berjajar menghadap pantai berpasir putih dan Laut Banda, saya jamin membuang waktu seharian di sini pun akan menyenangkan. Saat singgah di siang hari yang terik, beberapa anak lokal berenang, bermain sambil sesekali minta difoto.

Saya tidak diving hanya snorkeling, tapi teman saya yang diver melakukan ritualnya menyelami perairan Banda di beberapa diving spot termasyur di sini. Pernah dengar ada yang bilang belum ke Ambon kalau belum diving di Pintu Kota? Nah, di sinilah tempatnya. Ada beberapa diving spot lain yang dijelajahi waktu itu, yaitu Tanjung Mahia dan Namalatu. Di sini, katanya bisa dilihat bumphead parrotfish, kerapu, angelfish, clownfish dan anemonnya, dan sea fan berukuran besar-besar.

Rekomendasi ini mungkin sedikit tidak lazim, tapi ada warung makan yang menyediakan bakso dan ayam goreng pecel tepat di depan Collin Beach Hotel. Di hari terakhir saat kami kembali ke Ambon sebagai kota transit setelah berkeliling Maluku, kami kangen bakso dan ayam goreng pecel! Mungkin karena berhari-hari kami menikmati makanan laut dimanapun kami singgah di Maluku. Jadi ini semacam safe zone buat yang kangen makanan sehari-hari. Tapi ya, kami kembali lagi ke Latuhalat, destinasi yang awalnya kami hadapi dengan gelisah karena ada di luar rencana perjalanan.



Cerita persinggahan tak terencana di Latuhalat jadi awal perjalanan saya dan dua teman saya berkeliling Maluku. Selanjutnya, cerita-cerita menarik lain mengikuti. 

Entah apa yang bisa didapat dari cerita ini. Pelajaran bahwa kali lain merencanakan perjalanan segala sesuatunya harus dipersiapkan lebih detil? Tidak juga. Kalau dari awal kami tahu Latuhalat 30 menit jauhnya dari pusat kota Ambon, mungkin kami tidak akan sepakat untuk bermalam di sana. Tulisan ini pun tidak akan pernah ada.

Seorang pejalan pernah berpesan untuk tidak takut tersesat. Karena tersesat akan membawa kita pada pemahaman akan arti perjalanan yang sesungguhnya.

Jadi ingat iklan National Geographic Adventure channel ada tagline dalam bahasa Portugis : deixemo-nos perder?


Minggu, 18 Agustus 2013

Hari Merdeka


Rinjani, 2012

Mari berhenti mengecam kekurangan yang sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama, berkontribusi untuk hal-hal kecil pasti lebih berarti. #Merdeka

Farli Sukanto

Rabu, 07 Agustus 2013

Wayang Village Indonesia

A very good friend of mind, Pipin aka Fiona is now developing a community in Wonogiri, Central Java while saving one of the most valuable Indonesian heritage, Wayang. We were partners in college, attended the same organization (Mahitala Unpar) and had some time working together to realize every idealism of our youth. Now, I decide to continue supporting her via this blog. She left this writing and let us share, hoping more people read and eager to help. Godspeed and good luck, Pin!


Dear all,

I want to share a little story. Since high school I have been interested in literature. I have read many books, including adaptations of foreign books. I fell in love with the stories and its essence.

The epic stories of Mahabharata and Ramayana from India have been translated into Indonesian and enjoyed by many readers from centuries ago. To continue retelling the epic stories, poets over the ages created and perfected a method, still known today, i.e. the leather Shadow Puppet (Wayang) Performance.

Wayang is a priceless form of Indonesian art. The process of making a shadow puppet takes a long time because of its complexity. Additionally, a Wayang theater performance can extrapolate the values of life and wisdom that is at the core of every human being. Cultural values and its sheer beauty should be preserved so that it can be enjoyed and practiced by the future generation of Indonesians.


Unfortunately, such high quality culture is not adequately appreciated by the general public who now knows the value of globalization. Not many people pay careful attention to the philosophy of wayang that is in fact very useful when practiced in every day life. This has caused my concerns and in turn encourage us to develop Wayang Village.

Kepuhsari is a village in Manyaran, Wonogiri, Central Java. Most of the families here have made shadow puppets for generations. Many of the puppets in the current global market and those used for performances are the work of the villagers of Kepuhsari. Their work of art is well known for its complex and brilliant colours, and the fine, delicate carvings.


The huge potential of Kepuhsari village is not comparable to its current economic condition. Their soil is dry from draughts and cannot rely on agricultural production alone. At the same time, puppet making has not been able to become a viable long-term livelihood option. This is due to the lack of appreciation of the art itself. Through Wayang Village tourism programmes, we hope that wayang can now be a real option for the villagers to lift themselves out of poverty. Also, restoring the art of wayang to its true function, as a media for education and dissemination of moral values, would bring greater hope for the future generation of the village and Indonesia as a whole!

 -------

So during this festive holiday season, I would like to use this opportunity to promote our programs!
To fill your holidays (or your next holiday) Wayang Village presents our homestay program, in which you will stay over 1-2 nights at the villagers’ home and full participate in the village’s daily life! There are also a number of workshops to help you fully immerse yourself to the art and culture of wayang, i.e. carving leather puppets, playing gamelan orchestra, learning to be a puppet master, and unique glass painting. The villagers will your workshop facilitators, your guide, and will take you around in their own vehicles! Not to mention, wonderful, wonderful, healthy village food. Your money would go directly to the villagers who come together to create this authentic, unforgettable experience for you. Through these programs it is hoped that the villagers can improve their skills while benefiting the whole nation, and finally, be alleviated from poverty, because they are simply amazing.




To know more about Wayang Village, or if you are interested to book for this cultural experience, please visit our website:

or our facebook page:



We also accept donations of all kinds. Our main concern at the moment is the fact that some of the villagers still don’t have access to clean water and adequate sanitation (toilets). In the near future we are planning to build some toilets for the community. To donate, please visit our campaign website:

or you can transfer your donation to our BCA account in Indonesia: 
No. 541-501-8824
Name: Ariel Pradipta/Rieke Caroline.






We are also inviting friends who are interested to participate through volunteering, whatever skills you have, for growing Wayang Village together with the team. All you need to do is just send me an email:
or give me a call at: 
Thank you ever so much for your kind attention. I am looking forward to hearing from you, who surely are very passionate in helping the poor, our culture and our nation. Thank you thank you thank you :)

Warm Regards, 
Fiona

Minggu, 28 Juli 2013

Keeping the Balance

Day-Off dari sebuah proyek melelahkan di Bali, saya putuskan untuk bersepeda dari Kintamani hingga Sungai Telaga Waja di Karangasem. Gowes menikmati alam Bali memang obat paling mujarab untuk refreshing! Bersepeda memang perkara menjaga keseimbangan, kan?


Selasa, 23 Juli 2013

Top Destination Dieng

Saya mengutak-atik aplikasi translator di Ipod saya mencoba menemukan terjemahan dari kata 'magical' yang tiba-tiba terlintas saat ingin memulai tulisan ini. Kurang puas, saya beralih ke situs penerjemah bahasa andalan sambil berharap ada makna yang memang sesuai dengan rasa yang saya punya untuk kata 'magical'. Gaib. Sakti. Wasiat. Tiga kata itu yang selalu muncul.

Ah, kenapa terasa terlalu mistis dan angker? Terjemahan saya sih 'magical' itu playful dan eksploratif...

Lihat, kontur dan hijau alamnya saja sudah mengundang penasaran bukan?

Tanah Jawa selalu magical. Dari apa yang saya kenal, yakni sejarah, budaya, religi dan keterikatan masyarakatnya pada alam membangun atmosfer itu. Ada makna untuk setiap perbuatan dan ada alasan bernilai luhur untuk setiap simbol-simbol buatan, baik yang kini telah berwujud artefak ataupun tradisi.

Kali ini saya singgah kembali ke Wonosobo, dataran tinggi Dieng jadi destinasi untuk menghabiskan akhir pekan kali ini. Pada hari kedua roadtrip mengendarai mobil, perjalanan sampai di jalanan berkelok menanjak memasuki dataran tinggi Dieng. Kabut tebal Dieng dan hujan menghadang laju kendaraan seakan ingin menyembunyikan pesona khas yang dimiliki bentang alamnya. Yang kayak gini-gini nih gimana engga magical!

 
Tanah Jawa memang ajaib, dan salah satu tempat di Jawa yang juga menarik adalah Dataran Tinggi Dieng. Dataran tinggi ini sesungguhnya adalah sebuah kaldera dengan aktivitas vulkanik. Kawah-kawah bermaterial vulkanik serta danau-danau vulkanik banyak dijumpai di sini, berdampingan dengan pemukiman dan lahan garapan penduduk. Secara historis Dieng juga jadi misterius dengan kehadiran komplek Candi Hindu yang menurut sejarah dibangun pada abad ke-7. Dan ya, candi ini terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Di-Hyang, Bahasa Kawi menerjemahkan tempat ini sebagai sebuah gunung tempat tinggal Para Dewa-Dewi. Kalau mau menghayati keadaan cuaca yang kerap tidak menentu, sergapan kabut, kehadiran candi, mitos anak gimbal, dan keindahan bentang alam Dieng yang memukau, saya sih percaya kalau ini serupa dunia yang lain, serupa pelataran istana Dewa.

Tujuan wisata di Dieng tidak ada yang tidak menarik, tapi saya punya destinasi favorit saya sendiri. Urutan teratasnya pastinya pilihan paling pribadi, dan semoga saja bukan destinasi yang awam.

Anda bisa mencari foto terbaik dari Kawah Sikidang yang bergolak, atau
mendengar kisah sambil melihat langsung Komplek Candi Arjuna yang dibangun pada abad ke-7,
mengelilingi Telaga Warna sambil menemukan gua-gua spiritual, hingga
menyambut matahari terbit di Gunung Sikunir lalu menikmati kuliner kentang dan jamur komoditas utama Dieng yang lezat dan vegan-friendly.

Tapi ini yang paling saya gemari: Sumber Air Panas Dieng! Panggil saya hotspring hunter, karena entah kenapa fenomena alam ini selalu menarik minat wisata saya, apalagi kalau letaknya ada di kawasan bersuhu sejuk atau dingin.

Dari gerak-gerik seorang warga yang jadi pemandu ke tempat ini, sepertinya tempat ini rahasia. Letaknya sangat privasi, dari jalan raya kami harus menembus kawanan ilalang kira-kira dua ratus meter. Mendekati sumber air panas ini, gemercik air yang jatuh dari pipa bambu seakan merayu penemunya untuk segera merasakan sensasi setiap hangat tetes air yang jatuh.


Air dengan panas bumi ini ditanggul dengan pasangan batu kali membentuk kolam kecil, letaknya persis di bantaran sebuah sungai, dengan alam yang jadi sekeliling dindingnya. Beruntung, langit cerah yang menaungi momen berendam saya di sumber air panas hari itu. Semilir angin yang meniupkan udara Dieng yang dingin memang paling pas dinikmati dengan tubuh letih yang direndam di air panas ini. Belum lagi, tempat ini amat sepi pengunjung, jadi puas-puaskanlah...!

Saya memang belum mengamini konsep surga, tapi saya ingat saat berendam, menengadahkan kepala memandangi sempurnanya langit sambil menikmati sensasi hangat di setiap jengkal tubuh rasa-rasanya begini surga. Serba nikmat.


Jika sempat, mampirlah ke Wonosobo. Naiklah sedikit singgah di Dieng. Meluangkan waktu mengalami apa yang alam berikan di sini untuk sekali lagi mengagungi kebesaran Sang Pencipta dan mencari jawaban atas semua. Karena itu kamu tidak pernah berhenti berjalan, kan?

Jangan pernah berhenti bereksplorasi.

Jika butuh info kontak Si Pemandu ulung bisa langsung tanyakan saya, beliau siap menjamu pejalan yang bertamu ke Dieng!

Sabtu, 29 Juni 2013

A Bubu and Happy Story from West Borneo

Ensaid Panjang Village - Sintang, West Borneo.


The sun was about to set and the rain began to fall when we were ready to take the last scene that day. The last and the most difficult scene because we had to do it along the river. We will document how Dayak Desah Tribe catch fish for food.

For the umpteenth time, my small group of 8 traveled to remote village of Indonesia whose residents still live traditionally and keep the value of culture inherited by their ancestors. This time, it was Dayak Desah Tribe, one of the few Dayak (indigenous of Borneo) who still owns their traditional house, Rumah Betang. Here, in Ensaid Panjang, still stands 120 meters long house for the whole tribes. 



We would like to present the story on how Dayak Desah still keep local wisdom for gathering food (fish from the river). They will transport by boat to a point in the river to gather fish. I volunteered to handle the underwater camera and take the picture from the water. And shortly after I plunged into the river, I regretted my decision to volunteer. This narrow river created torrent and it is deeper than I expected. Being in the water for more than an hour under drizzling rain, fighting the tide while recording all the moments was really tough. But I had been warned about these kind of challenge the first time the job was offered & I was counted in the team to face any obstacle possible, come hell or high water.



It is Bubu, a rattan cage that the tribe uses to trap fish. Everyday at 4 or 5 pm, they swap Bubu that has been successfully trapped fish with a new empty cage for ensnares other fish until the next day. And they will paddle their little wooden boat to the point where Bubu is located.

They provide us one room among those rooms in Rumah Betang.


Rumah Betang or Long House is shelter for the whole tribes. With the length of the house reaching more than 100 meters, it is the only house for the people in the village. If you ask how big is Ensaid Panjang as a village, it is as big as the Rumah Betang. Located in the middle of the woods, Rumah Betang Dayak Desah consists of about 25 rooms for about 25 families. Try to visit them once and experience the warmth of the living-together-community.

After a dirty and exhausting afternoon, I immediately took a bath and finished my dinner. After almost a year traveled all over Indonesia to document the life of traditional tribes, this was the first night I felt really tired. I remember laying down in the room with bundle of my sleeping bag as a pillow, and started to manage my breathing for relaxation. "Even a dream job, what I thought as the most interesting job, can be frustating.." the statement crossed my mind.

"Far, let's make something very entertaining for the house tonight!" this imperative sentence came from my producer while I was busy to muse. Your first tought might be about tuak, traditional Dayak alcoholic drinks for the best of night entertainment, but night was still young and kids were still around. Yes, kids in Rumah Betang seemed to really love guests, they could wait in front of the guest room for hours, asked us random questions from in front of the door, or were very happy to be photographed. And so it is, we make special tonight show for the lovely kids!


It must be boring to read my story doing a puppet show for the kids. But this had been the most brilliant idea that could be created in Rumah Betang that night. From the limited materials, we used our socks and decorated them with hair and expressions to tell some stories. What is the story? It is the funny story about catching fish with Bubu in the river near Ensaid Panjang village. I doubted this would be a funny and entertaining at first, but this was the picture that I got from the night.


Plus! My friend added a little trick performance that make the kids astonished!
And I owned one happy memory that will last for sure.

It's sometime funny yet mysterious how feelings can change in a blink of eyes. But no matter what you do, how hard your job is, or how interesting other people's lifes are, I think Walt Disney said it well that Happiness is a state of mind.

It's just according to the way you look at things. From my story, thank God, I was given a look at that making a puppet show for the kids is more recharging spirit & energy than just laying around and questioning Life.

Have a nice weekend!


Minggu, 23 Juni 2013

To Balo Bulu Pao


Believing is not how you understand something

Pernah suatu hari saya menonton tayangan "The Biggest Mystery on Earth" di saluran luar negeri yang merangking mundur 15 misteri terbesar di dunia. Awalnya saya nonton santai menikmati ulasan Si Tayangan, hitungan mundur ini dimeriahkan oleh ulasan tentang Alienlah, Crop Circle-lah, hingga makhluk-makhluk misterius seperti Big Foot, Yeti dan Loch Ness. Saya mulai gelisah saat tayangan tersebut menempatkan Tuhan di rangking kedua.

Saya menduga Tuhan pasti misteri terbesar pertama di atas muka bumi ini. Apa lagi yang bisa mereka tempatkan di posisi teratas sebagai misteri paling misterius di dunia? Saya tertantang untuk menunggu ranking pertama versi mereka.

"And the biggest mystery on earth is..." voice over menggiring rasa penasaran semakin dalam. Tayangan ini mendramatisir dengan baik penyajian si misteri nomor satu ini. Seisi layar televisi menampilkan gambar alam semesta, dengan titik-titik bintang bertabur di kedalaman jarak tak terhingga, sepi dan misterius sekali. Pada satu detik, setitik cahaya muncul di kejauhan, perlahan terang ini mendekat, semakin dekat hingga terasa menyilaukan. Diiringi scoring menggugah, seketika muncullah jawaban itu...


Tayangan ini sukses mengobrak-abrik keimanan saya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang bertubi-tubi diajukannya. Tentang penjelasan logis zat penyusun sel telur dan sel sperma yang bisa menjelma jadi embrio-lah, tentang jiwa dan raga-lah, tentang kematian hingga pertanyaan tentang tujuan diciptakannya kehidupan.

Sejak hari itu, saya seperti mulai menyusun rapi puzzle tentang kehidupan. Keping demi keping disambung untuk mencoba melihat sebuah gambar yang utuh.

---


Tidak pernah ada riset perjalanan sefiktif ini sebelumnya.

Saya mengarahkan riset perjalanan saya kali ini ke Pulau Sulawesi. Dan saya menemukan sebuah artikel yang bercerita tentang sebuah tempat di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, kurang lebih 100 kilometer jauhnya di Utara Makassar, dengan waktu tempuh kira-kira tiga setengah sampai empat jam mengendarai mobil. Tapi artikelnya seperti cerita fiksi. Satu bagian membuat dahi berkernyit, bagian lain membuat sedikit bergidik.

http://news.liputan6.com/read/59205/tobelo-manusia-belang-kutukan-sang-dewa

Tapi semakin terasa fiktif, semakin terasa layak untuk disinggahi. Apalah artinya misteri tanpa rasa penasaran yang diundangnya, kan? Mari berangkat!

Pegunungan Bulu Pao di Kabupaten Barru jadi tujuan saya kali ini. 



Dari Makassar perjalanan kami lanjutkan ke utara. Hingga kabupaten Barru yang memakan waktu kira-kira 3 jam, perjalanan belum terlalu menantang. Perjalanan jadi lebih beresiko saat mulai mendaki dari desa di kaki gunung. Mobil bergardan ganda yang kami tumpangi harus melipir jalur sempit yang berbatasan langsung dengan jurang-jurang dalam. Belum lagi di beberapa titik, jalur yang memang hanya muat untuk satu mobil ini longsor. Kami harus menangguhkan kembali pondasi jalan tanah ini dengan batu-batuan dan batang kayu.

Perjalanan kali ini tidak seperti membawa misi dokumentasi budaya, lebih terasa jadi Agen Murder atau Agen Scully-nya X-Files. Semakin jauh perjalanannya pun teman-teman kru semakin sering bertanya kepada saya. Sedikit mengancam kalau-kalau Tobalo yang dicari sebenarnya tidak ada. 


Empat jam kami habiskan di jalur pendakian, yang setelah kami ketahui baru kali ini dilalui mobil. Dan tibalah kami di tahap perjalanan terakhir, berjalan kaki mendaki dan menuruni bukit mendatangi pondok demi pondok untuk bertemu dengan salah satu Tobalo. Anggaplah ini tempat persembunyian Tobalo, tapi bisa jadi ini tempat pengasingan diri yang paling membahagiakan. Mari lihat apa yang terbentang sejauh mata kami memandang saat kami berhenti untuk mengambil nafas sejenak di tengah pendakian kami.


Sosok Tobalo pertama yang saya temui adalah seorang ibu di sebuah pondok kecil, sosoknya pemalu dan pendiam, Ibu Samina. Setelah memohon ijin, beliau mengantar kami ke pondok Sang Kakak, sosok yang menjadi kepala atau yang dituakan para Tobalo saat ini.  Perasaan sedikit lega saat kami diterima dengan hangat, terjawab sudah Tobalo bukan mitos. Keluarga itu ada bersama kami sekarang, bertukar cerita.





Menurut saya Tobelo bukan suku, mereka lebih merupakan satu keluarga keturunan Bugis namun berbahasa berbeda, yaitu bahasa Bentong. Konon, bahasa ini pun sulit dimengerti oleh siapapun. Beberapa hari kami habiskan bersama Pak Nuru dan keluarga, diajari cara memanjat pohon nira untuk mengambil air gula, diajak ke sungai berarus deras untuk mandi, hingga membuat penganan dari air gula resep warisan nenek moyangnya. Menyenangkan sekali.

Ada sebuah cerita yang coba saya yakini ketika bertanya mengenai asal bercak putih yang terus terwaris di tubuh mereka secara turun temurun. Satu cerita berkisah tentang nenek moyang mereka, seorang ksatria yang berhasil menaklukkan sayembara kerajaan di masa lampau untuk menjinakkan seekor kuda istana dan mendapatkan putri raja sebagai istri. Namun karena tak kunjung dikaruniai keturunan, Sang Ksatria bernazar kepada Dewa agar diberikan keturunan sekalipun belang seperti kuda yang dijinakkannya. Sejak hari itulah semua keturunannya hingga hari ini bertubuh belang. 

Berusahalah meyakini tapi jangan sekali-sekali menyandingi cerita ini dengan teori-teori genetika. Ilmu pengetahuan bukan bagian dari hidup Tobalo. Dan pernahkah kalian coba bayangkan hidup tanpa ilmu pengetahuan? Tanpa sesuatu yang melatih logika untuk membuat semua jadi apa yang kita pahami sebagai 'masuk akal'.

Saya melamun untuk pengalaman ini dan sempat terlintas : Tanpa ilmu pengetahuan, mungkin iman akan lebih terlatih untuk mengamini dan memahami bahasa-bahasa alam. Bahkan bercak turun temurun Tobalo pun bisa jadi sandi dari Tuhan, untuk kita memahami secuil pelajaran tentang kehidupan. Tentang apa itu? Saya juga belum tau. Toh, dari tadi pun saya bilang mungkin dan bisa jadi.

Saya menyimpan tulisan ini sebagai draft sekian lama. Ada keyakinan catatan perjalanan ini abu-abu, atau membingungkan. Sedikit penjelasan logis yang bisa saya tambahkan untuk bagian-bagian yang saya ceritakan. Posting ini belum saya tambahkan cerita dimana Pak Nuru mengajak kami menyaksikannya menari Sere Api, menunjukkan kekebalannya menari di atas api.

Atau apa jawaban mereka atas konfirmasi isi paragraf terakhir artikel di atas yang membuat saya bergidik? Ah, biarlah beberapa misteri ditinggal sebagai misteri.