Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juli 2013

Top Destination Dieng

Saya mengutak-atik aplikasi translator di Ipod saya mencoba menemukan terjemahan dari kata 'magical' yang tiba-tiba terlintas saat ingin memulai tulisan ini. Kurang puas, saya beralih ke situs penerjemah bahasa andalan sambil berharap ada makna yang memang sesuai dengan rasa yang saya punya untuk kata 'magical'. Gaib. Sakti. Wasiat. Tiga kata itu yang selalu muncul.

Ah, kenapa terasa terlalu mistis dan angker? Terjemahan saya sih 'magical' itu playful dan eksploratif...

Lihat, kontur dan hijau alamnya saja sudah mengundang penasaran bukan?

Tanah Jawa selalu magical. Dari apa yang saya kenal, yakni sejarah, budaya, religi dan keterikatan masyarakatnya pada alam membangun atmosfer itu. Ada makna untuk setiap perbuatan dan ada alasan bernilai luhur untuk setiap simbol-simbol buatan, baik yang kini telah berwujud artefak ataupun tradisi.

Kali ini saya singgah kembali ke Wonosobo, dataran tinggi Dieng jadi destinasi untuk menghabiskan akhir pekan kali ini. Pada hari kedua roadtrip mengendarai mobil, perjalanan sampai di jalanan berkelok menanjak memasuki dataran tinggi Dieng. Kabut tebal Dieng dan hujan menghadang laju kendaraan seakan ingin menyembunyikan pesona khas yang dimiliki bentang alamnya. Yang kayak gini-gini nih gimana engga magical!

 
Tanah Jawa memang ajaib, dan salah satu tempat di Jawa yang juga menarik adalah Dataran Tinggi Dieng. Dataran tinggi ini sesungguhnya adalah sebuah kaldera dengan aktivitas vulkanik. Kawah-kawah bermaterial vulkanik serta danau-danau vulkanik banyak dijumpai di sini, berdampingan dengan pemukiman dan lahan garapan penduduk. Secara historis Dieng juga jadi misterius dengan kehadiran komplek Candi Hindu yang menurut sejarah dibangun pada abad ke-7. Dan ya, candi ini terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Di-Hyang, Bahasa Kawi menerjemahkan tempat ini sebagai sebuah gunung tempat tinggal Para Dewa-Dewi. Kalau mau menghayati keadaan cuaca yang kerap tidak menentu, sergapan kabut, kehadiran candi, mitos anak gimbal, dan keindahan bentang alam Dieng yang memukau, saya sih percaya kalau ini serupa dunia yang lain, serupa pelataran istana Dewa.

Tujuan wisata di Dieng tidak ada yang tidak menarik, tapi saya punya destinasi favorit saya sendiri. Urutan teratasnya pastinya pilihan paling pribadi, dan semoga saja bukan destinasi yang awam.

Anda bisa mencari foto terbaik dari Kawah Sikidang yang bergolak, atau
mendengar kisah sambil melihat langsung Komplek Candi Arjuna yang dibangun pada abad ke-7,
mengelilingi Telaga Warna sambil menemukan gua-gua spiritual, hingga
menyambut matahari terbit di Gunung Sikunir lalu menikmati kuliner kentang dan jamur komoditas utama Dieng yang lezat dan vegan-friendly.

Tapi ini yang paling saya gemari: Sumber Air Panas Dieng! Panggil saya hotspring hunter, karena entah kenapa fenomena alam ini selalu menarik minat wisata saya, apalagi kalau letaknya ada di kawasan bersuhu sejuk atau dingin.

Dari gerak-gerik seorang warga yang jadi pemandu ke tempat ini, sepertinya tempat ini rahasia. Letaknya sangat privasi, dari jalan raya kami harus menembus kawanan ilalang kira-kira dua ratus meter. Mendekati sumber air panas ini, gemercik air yang jatuh dari pipa bambu seakan merayu penemunya untuk segera merasakan sensasi setiap hangat tetes air yang jatuh.


Air dengan panas bumi ini ditanggul dengan pasangan batu kali membentuk kolam kecil, letaknya persis di bantaran sebuah sungai, dengan alam yang jadi sekeliling dindingnya. Beruntung, langit cerah yang menaungi momen berendam saya di sumber air panas hari itu. Semilir angin yang meniupkan udara Dieng yang dingin memang paling pas dinikmati dengan tubuh letih yang direndam di air panas ini. Belum lagi, tempat ini amat sepi pengunjung, jadi puas-puaskanlah...!

Saya memang belum mengamini konsep surga, tapi saya ingat saat berendam, menengadahkan kepala memandangi sempurnanya langit sambil menikmati sensasi hangat di setiap jengkal tubuh rasa-rasanya begini surga. Serba nikmat.


Jika sempat, mampirlah ke Wonosobo. Naiklah sedikit singgah di Dieng. Meluangkan waktu mengalami apa yang alam berikan di sini untuk sekali lagi mengagungi kebesaran Sang Pencipta dan mencari jawaban atas semua. Karena itu kamu tidak pernah berhenti berjalan, kan?

Jangan pernah berhenti bereksplorasi.

Jika butuh info kontak Si Pemandu ulung bisa langsung tanyakan saya, beliau siap menjamu pejalan yang bertamu ke Dieng!

Minggu, 23 Juni 2013

To Balo Bulu Pao


Believing is not how you understand something

Pernah suatu hari saya menonton tayangan "The Biggest Mystery on Earth" di saluran luar negeri yang merangking mundur 15 misteri terbesar di dunia. Awalnya saya nonton santai menikmati ulasan Si Tayangan, hitungan mundur ini dimeriahkan oleh ulasan tentang Alienlah, Crop Circle-lah, hingga makhluk-makhluk misterius seperti Big Foot, Yeti dan Loch Ness. Saya mulai gelisah saat tayangan tersebut menempatkan Tuhan di rangking kedua.

Saya menduga Tuhan pasti misteri terbesar pertama di atas muka bumi ini. Apa lagi yang bisa mereka tempatkan di posisi teratas sebagai misteri paling misterius di dunia? Saya tertantang untuk menunggu ranking pertama versi mereka.

"And the biggest mystery on earth is..." voice over menggiring rasa penasaran semakin dalam. Tayangan ini mendramatisir dengan baik penyajian si misteri nomor satu ini. Seisi layar televisi menampilkan gambar alam semesta, dengan titik-titik bintang bertabur di kedalaman jarak tak terhingga, sepi dan misterius sekali. Pada satu detik, setitik cahaya muncul di kejauhan, perlahan terang ini mendekat, semakin dekat hingga terasa menyilaukan. Diiringi scoring menggugah, seketika muncullah jawaban itu...


Tayangan ini sukses mengobrak-abrik keimanan saya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang bertubi-tubi diajukannya. Tentang penjelasan logis zat penyusun sel telur dan sel sperma yang bisa menjelma jadi embrio-lah, tentang jiwa dan raga-lah, tentang kematian hingga pertanyaan tentang tujuan diciptakannya kehidupan.

Sejak hari itu, saya seperti mulai menyusun rapi puzzle tentang kehidupan. Keping demi keping disambung untuk mencoba melihat sebuah gambar yang utuh.

---


Tidak pernah ada riset perjalanan sefiktif ini sebelumnya.

Saya mengarahkan riset perjalanan saya kali ini ke Pulau Sulawesi. Dan saya menemukan sebuah artikel yang bercerita tentang sebuah tempat di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, kurang lebih 100 kilometer jauhnya di Utara Makassar, dengan waktu tempuh kira-kira tiga setengah sampai empat jam mengendarai mobil. Tapi artikelnya seperti cerita fiksi. Satu bagian membuat dahi berkernyit, bagian lain membuat sedikit bergidik.

http://news.liputan6.com/read/59205/tobelo-manusia-belang-kutukan-sang-dewa

Tapi semakin terasa fiktif, semakin terasa layak untuk disinggahi. Apalah artinya misteri tanpa rasa penasaran yang diundangnya, kan? Mari berangkat!

Pegunungan Bulu Pao di Kabupaten Barru jadi tujuan saya kali ini. 



Dari Makassar perjalanan kami lanjutkan ke utara. Hingga kabupaten Barru yang memakan waktu kira-kira 3 jam, perjalanan belum terlalu menantang. Perjalanan jadi lebih beresiko saat mulai mendaki dari desa di kaki gunung. Mobil bergardan ganda yang kami tumpangi harus melipir jalur sempit yang berbatasan langsung dengan jurang-jurang dalam. Belum lagi di beberapa titik, jalur yang memang hanya muat untuk satu mobil ini longsor. Kami harus menangguhkan kembali pondasi jalan tanah ini dengan batu-batuan dan batang kayu.

Perjalanan kali ini tidak seperti membawa misi dokumentasi budaya, lebih terasa jadi Agen Murder atau Agen Scully-nya X-Files. Semakin jauh perjalanannya pun teman-teman kru semakin sering bertanya kepada saya. Sedikit mengancam kalau-kalau Tobalo yang dicari sebenarnya tidak ada. 


Empat jam kami habiskan di jalur pendakian, yang setelah kami ketahui baru kali ini dilalui mobil. Dan tibalah kami di tahap perjalanan terakhir, berjalan kaki mendaki dan menuruni bukit mendatangi pondok demi pondok untuk bertemu dengan salah satu Tobalo. Anggaplah ini tempat persembunyian Tobalo, tapi bisa jadi ini tempat pengasingan diri yang paling membahagiakan. Mari lihat apa yang terbentang sejauh mata kami memandang saat kami berhenti untuk mengambil nafas sejenak di tengah pendakian kami.


Sosok Tobalo pertama yang saya temui adalah seorang ibu di sebuah pondok kecil, sosoknya pemalu dan pendiam, Ibu Samina. Setelah memohon ijin, beliau mengantar kami ke pondok Sang Kakak, sosok yang menjadi kepala atau yang dituakan para Tobalo saat ini.  Perasaan sedikit lega saat kami diterima dengan hangat, terjawab sudah Tobalo bukan mitos. Keluarga itu ada bersama kami sekarang, bertukar cerita.





Menurut saya Tobelo bukan suku, mereka lebih merupakan satu keluarga keturunan Bugis namun berbahasa berbeda, yaitu bahasa Bentong. Konon, bahasa ini pun sulit dimengerti oleh siapapun. Beberapa hari kami habiskan bersama Pak Nuru dan keluarga, diajari cara memanjat pohon nira untuk mengambil air gula, diajak ke sungai berarus deras untuk mandi, hingga membuat penganan dari air gula resep warisan nenek moyangnya. Menyenangkan sekali.

Ada sebuah cerita yang coba saya yakini ketika bertanya mengenai asal bercak putih yang terus terwaris di tubuh mereka secara turun temurun. Satu cerita berkisah tentang nenek moyang mereka, seorang ksatria yang berhasil menaklukkan sayembara kerajaan di masa lampau untuk menjinakkan seekor kuda istana dan mendapatkan putri raja sebagai istri. Namun karena tak kunjung dikaruniai keturunan, Sang Ksatria bernazar kepada Dewa agar diberikan keturunan sekalipun belang seperti kuda yang dijinakkannya. Sejak hari itulah semua keturunannya hingga hari ini bertubuh belang. 

Berusahalah meyakini tapi jangan sekali-sekali menyandingi cerita ini dengan teori-teori genetika. Ilmu pengetahuan bukan bagian dari hidup Tobalo. Dan pernahkah kalian coba bayangkan hidup tanpa ilmu pengetahuan? Tanpa sesuatu yang melatih logika untuk membuat semua jadi apa yang kita pahami sebagai 'masuk akal'.

Saya melamun untuk pengalaman ini dan sempat terlintas : Tanpa ilmu pengetahuan, mungkin iman akan lebih terlatih untuk mengamini dan memahami bahasa-bahasa alam. Bahkan bercak turun temurun Tobalo pun bisa jadi sandi dari Tuhan, untuk kita memahami secuil pelajaran tentang kehidupan. Tentang apa itu? Saya juga belum tau. Toh, dari tadi pun saya bilang mungkin dan bisa jadi.

Saya menyimpan tulisan ini sebagai draft sekian lama. Ada keyakinan catatan perjalanan ini abu-abu, atau membingungkan. Sedikit penjelasan logis yang bisa saya tambahkan untuk bagian-bagian yang saya ceritakan. Posting ini belum saya tambahkan cerita dimana Pak Nuru mengajak kami menyaksikannya menari Sere Api, menunjukkan kekebalannya menari di atas api.

Atau apa jawaban mereka atas konfirmasi isi paragraf terakhir artikel di atas yang membuat saya bergidik? Ah, biarlah beberapa misteri ditinggal sebagai misteri.



Kamis, 25 Oktober 2012

Kompas TV Teroka on The Weekend : Rinjani



Jangan lupa saksikan serunya petualangan Cahyo Alkantana @cahyoalkantana, Nicholas Saputra @nicsap, dan kami berlima (@farlisukanto, @adjie_hasan, @yunaidijoepoet, @renlyosua, @tedonkknodet_) sebagai pemenang Black Trail Rinjani bersama L'Oreal Men Expert & National Geographic Indonesia di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Let's Explore Rinjani!

Sabtu 27 Oktober 2012 pk. 10.00 WIB di Kompas TV


Mau ikutan? Ayo menangin kesempatan berpetualang gokil ala Black Trail ke Dayak Iban atau Raja Ampat di sini.


Senin, 08 Oktober 2012

Rinjani : Menghidupi, Menantang dan Memanja



 Tidak ada gunung seperti Rinjani. 



Kegiatan tektonik vulkanikgunung ini pada masa lalu melahirkan bentukan unik di ketinggian 2000 mdpl. Ada kaldera seluas 1,7 hektar yang 60persennya menampung air & menjadi sebuah danau cantik yang diberi namaSegara Anak. Masih di kaldera yang sama, terdapat Anak Rinjani, yaitu GunungBaru Jari yang terakhir meletus tahun 2009 dan melahirkan kawah baru di kalderaini. 

Kerucut Gunung Baru Jariseolah menjadi aksen di tengah jajaran punggungan Rinjani.

Segara dalam bahasa lokal berarti Laut. Masyarakat adatSasak percaya Segara Anak adalah laut kecil yang menghiasi kaldera Rinjani danmenjadi tempat tinggal bagi Anjani, dewi penguasa Rinjani. Beberapa ritual umatHindu dan masyarakat adat Sasak dilakukan bagi Dewi Anjani di Segara Anak,salah satunya adalah Mulang Pekelem. Secara turun temurun, masyarakat lokalmewariskan Rinjani sebagai ruang kegiatan spiritual mereka.

Tidak kalah pentingnya dengan aspek kepentingan spiritual,Rinjani pun menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat lokal untuk menyambunghidup. Terima kasih kepada usaha tak kenal menyerah dari Rinjani TrekManagement Board (RMTB), kerjasama Taman Nasional Gunung Rinjani, penggerak industripariwisata di Rinjani dan masyarakat lokal, yang telah memperbaiki danterus-menerus mengembangkan pariwisata Rinjani, termasuk rotasi bagi porter danpemandu lokal yang diatur oleh sistem satu atap. Usaha pemberdayaan masyarakatlokal dan konservasi lingkungan oleh RMTB ini meraih dua penghargaan tingkatinternasional, yaitu Word Legacy Awarddari Conservation International andNational Geographic Traveler 2004 untuk kategori Destination Stewardship and Tourism for Tomorrow, serta penghargaandari Word Travel and Tourism Counciltahun 2007. 

Menjejakkan kaki di puncak gunung api tertinggi kedua diIndonesia ini sama halnya dengan usaha RMTB membenahi kegiatan pendakian diRinjani. Sama-sama harus pantang menyerah. Pada etape akhir di hari pertama, kamiyang memulai pendakian dari Desa Sembalun sudah dihadapkan dengan punggungancuram dan panjang. Etape ini termasyur di kalangan pendaki dengan nama BukitPenyesalan. 

Perjuangan kami menjajal Bukit Penyesalan ini dihadiahi pemandanganmatahari tenggelam yang indah dari Pelawangan Sembalun.

Hari berikutnya, perjuangan menggapai puncak Rinjani kamilanjutkan sejak jam 3 pagi. Medan pendakian yang berpasir kemudian berbatu,angin, serta suhu udara yang dingin seakan jadi ujian terakhir dari Rinjanibagi siapa saja yang ingin singgah di puncaknya. Namun semua terbayar di PuncakRinjani. Di titik 3726 mdpl ini, ada panorama kaldera Rinjani yang memesona,serta Puncak Gunung Agung dan garis pantai Pulau Lombok yang kadang tersamaroleh awan.

Danau Segara Anak
Setelah puncak, persinggahan kami selanjutnya adalah DanauSegara Anak. Di sini kami membuka tenda sebagai tempat bermalam di haripendakian kedua. Kami menanti datangnya gelap sambil berendam di aliran sungaiKokok Putih yang merupakan sumber air panas tidak jauh dari Danau Segara Anak.Memanjakan jiwa dan raga sejenak di sebuah telaga untuk bekal perjalanan turunke Desa Senaru yang akan kami tempuh kira-kira 10 jam keesokan harinya

Pendakian Gunung Rinjani adalah perjalanan memahamisekaligus menikmatinya. Memahami betapa pentingnya Rinjani bagi umat manusia,dan menikmati setiap tantangan serta suguhan-suguhannya yang memanjakan.Rinjani adalah surga bagi para pendaki.










Farli Sukanto